Menjalani Hidup & Ber-Islam Sebagaimana Mestinya

Satu fakta terbesar dan paling mendasar di alam semesta ini adalah keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini bukan sekadar dogma tanpa dasar, melainkan sebuah hakikat mutlak yang didukung oleh dalil naqli (wahyu) yang sahih dan dalil aqli (akal sehat) yang tidak terbantahkan.

Namun, di tengah benderangnya kebenaran ini, kita menyaksikan fenomena tragis: manusia sering kali lupa, berpaling, bahkan dengan sombongnya menolak keberadaan Allah sebagai satu-satunya Sang Pencipta.

Mengapa Allah harus satu? Dan mengapa manusia tega melupakan-Nya? Mari kita bedah berdasarkan pemahaman Manhaj Salafush Shalih.


Bagian 1: Mengapa Pencipta Harus Mutlak Esa (Satu)?

Secara akal sehat dan keteraturan alam semesta, keberadaan dua tuhan atau lebih adalah sebuah kemustahilan yang mutlak. Jika ada lebih dari satu pencipta, maka alam semesta ini pasti hancur karena benturan kehendak di antara mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan argumen rasional dan teologis ini di dalam Al-Qur’an:

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al-Anbiya: 22)

Konsep Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah

Manhaj Salaf mengajarkan bahwa mengesakan Allah dalam mencipta (Rububiyah) secara otomatis mewajibkan manusia mengesakan Allah dalam ibadah (Uluhiyah). Tidak logis jika Anda mengakui bumi dan langit diciptakan oleh satu Zat, namun Anda membagi penghambaan Anda kepada selain-Nya.

Allah Ta’ala berfirman menantang logika manusia:

مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلٰهٍ ۚ إِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلٰهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ

“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.” (QS. Al-Mu’minun: 91)


Bagian 2: Mengapa Manusia Melupakan dan Mengingkari Sang Pencipta?

Jika kebenaran itu begitu nyata, mengapa ada manusia yang ateis (tidak mengakui-Nya) atau hidup dalam kelalaian seolah tuhan itu tidak ada? Menurut para ulama Salaf, hal ini disebabkan oleh beberapa penyakit akut berikut:

1. Kesombongan dan Penolakan terhadap Fitrah

Pada dasarnya, setiap manusia lahir dengan fitrah mengakui keberadaan Allah. Namun, ego, kesombongan, dan hawa nafsu membuat mereka menutup mata dari kebenaran. Kasus ini persis seperti Firaun yang secara hati kecil mengakui adanya Allah, namun lisan dan tindakannya menolak karena gengsi kekuasaan.

Allah Ta’ala berfirman tentang kaum yang mengingkari ayat-ayat-Nya:

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS. An-Naml: 14)

2. Terbawa Arus Syahwat dan Fitnah Dunia

Manusia sering kali lupa kepada Allah karena hati mereka telah tersita sepenuhnya oleh materi duniawi. Ketika dunia menjadi tujuan utama, zikir (mengingat Allah) menjadi beban, dan hukum-hukum Allah dianggap sebagai penghalang kebebasan mereka.

Allah Ta’ala memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang melupakan-Nya:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“And janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19)

3. Penyakit “Raan” (Noda Hitam Maksiat) yang Mematikan Hati

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah menjelaskan bahwa kemaksiatan yang dilakukan terus-menerus akan melahirkan kelalaian. Kelalaian yang dibiarkan akan mengeras menjadi tirai yang menutup hati dari cahaya tauhid. Ketika hati sudah mati, mereka tidak lagi mampu melihat kebesaran Pencipta-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang proses tertutupnya hati ini:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ صُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ

“Sesungguhnya seorang hamba apabila berbuat dosa, maka dititikkan dalam hatinya sebuah noda hitam. Jika ia meninggalkannya, beristighfar, dan bertaubat, maka hatinya kembali bersih. Namun jika ia kembali berbuat dosa, noda itu akan bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah ‘raan’ (penutup) yang disebutkan oleh Allah.” (HR. Tirmidzi, ia berkata: Hadits Hasan Sahih)


Kesimpulan: Konsekuensi Fatal Bagi yang Berpaling

Keesaan Allah adalah poros dari seluruh kehidupan. Mengingkarinya atau melupakannya tidak akan mengurangi sedikit pun keagungan Allah, melainkan justru menghancurkan diri manusia itu sendiri di dunia dan di akhirat. Manhaj Salaf menekankan bahwa obat dari segala kelalaian ini adalah dengan kembali menuntut ilmu syar’i, memurnikan tauhid, dan tunduk sepenuhnya tanpa syarat kepada syariat-Nya.

Allah Ta’ala menutup perkara ini dengan ancaman yang pasti nyata:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124)


Tinggalkan Balasan